Minggu, 29 Maret 2009

3 komentar:

susma mengatakan...

Semakin Kukejar Semakin (kau) Jauh
oleh Fiyan Arjun


"Adakalanya mimpi-mipmi hadir seluas samudera sehingga kita bisa berenang di dalamnya.”(Tentang Mimpi dan Harapan—Buku Menggengam Cahaya)






Setiap peristiwa adalah sumbu­­-sumbu bagi kantong-kantong kenangan—dan merupakan tempat menyalahkan ingatan dengan segenap emosi tentang apa yang datang dan apa yang pergi di dalam kehidupan.







Mungkin siapa tahu ketika kala ingatan yang—dulu pita rekaman hidup di dalam memori berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa. Sedih, luka, bahagia atau bahkan kehilangan yang sangat mendalam sekalipun pasti akan terasa tertoreh di lembar-lembar kehidupan. Mau tidak mau hal itu pun harus diterima. Tak terkecuali dengan mimpi seorang anak manusia yang kandas di tengah jalan. Walau tetes demi setetes peluh menemani tanpa diketahui dengan pasti.








Entah, apakah mimpi (baca:cita-cita) itu benar-benar menjadi bagian dari hidup saja atau hanya fatamorgana sesaat saja. Entahlah. Namun yang pasti sebagai umat yang berakal hanya bisa berpasrah diri sebagai jalan satu-satu yang perlu dilakukan. Walau rasa kecewa itu nanti akan tertancap di lubuk hati dan akan terasa.







Ya, ternyata hidup tak semuda bermimpi saja—yang begitu mudah diucapkan dibandingakn menjadi sebuah kenyataan dalam keinginan semu.






Hal itu pun pernah aku alami dalam hidup ini. Pun aku tak bisa mengelak dengan hal itu. Hingga akhirnya sebuah cerita yang penuh warna biru mengharu bergulir. Sebuah cerita yang menurutku sebagai awal mimpi dalam tidur semuku sekaligus keraguan dalam hidupku.







Panggil saja namaku Fiyan! Walau pun nanti ada embel-embel di belakang itu pun hanya untuk menutupi indentitasku. Siapa aku sesungguhnya. Namun yang jelasnya cukup lima huruf itu saja yang terurai dalam namaku. Tak lebih dan juga tak kurang. Singkat dan (mungkin) tak perlu dipanjangkan. Hanya tiga huruf konsonan dan dua huruf vokal yang menemani nama itu. Cukup singkat dan mudah dihafal bukan?







Membicarakan pilihan hidup. Atau, cita-cita. Apalagi sebuah mimpi bagiku sama saja membicarakan takdir seseorang! Mau tak mau harus disangkutpautkan dengan namanya upaya dan daya itu sendiri. Alias, kegigihan seseorang dalam menempuh itu semua. Entah itu namanya pilihan hidup, cita-cita maupun mimpi hanya orang itu sendiri yang bisa mengalaminya. Halnya aku, walau hal itu tak sesuai dengan apa yang aku harapkan!








Aku. Ya, aku. Hal yang pernah aku alami bahkan aku jalani walau hanya sesaat. Tapi aku pernah merasakan. Dan…cerita inilah yang bergulir….






***




Medio Agustus, tahun 2008






“Akhirnya datang juga kesempatan itu.”





Mungkin ini sudah jalanku—yang Maha Pencipta memberikanku sebuah anugerah—yang mungkin jarang dimiliki orang lain. Bakat menulis serta mengaplikasikannya dalam bentuk kata demi kata, bait demi bait lalu terangkai menjadi sebuah kalimat. Tulisan.






***






Seperti hari itu, Senin mentari masih menyemburatkan sinarnya yang keemas-emasan hingga menembus kaca nako rumahku. Hangat. Mengeliatkanku untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan segala keperluanku untuk bekerja. Tapi hari itu aku tak lagi tidak bekerja. Off. Karena memang bukan hari itu tugasku untuk bekerja saat itu. Dan aku pun sendiri melakukan aktivitas yang lainnya—yang masih berhubungan dengan duniaku. Dunia tulis menulis. Mengecek e-mail di in-box, browsing dan mengkroscek tulisan di blogku. Itu pun aku lakukan dengan cara merental di warnet yang masih ada di dekat rumah.






Beberapa lama kemudian aku pun asyik masyuk berinternet ria. Lalu tiba-tiba handphone (seterusnya di tulis HP) jadul saya berteriak nyaring. Hingga bila ada penghuni lain yang mengunakan fasilitas internet di warnet itu mungkin akan menegurku. Norak amat sih punya hape! Mungkin itulah ucapan-ucapan yang terlontar dan ekor telingaku harus siap-siap tebal. Namun tidak demikiannya, hari itu penghuni warnet di dekatku lagi sepi. Hanya aku dan operator warnetnya. Tak lain masih kawanku sendiri hingga hatiku sedikit lega dan puas untuk teriak-teriak bicara dibalik HP jadulku.





***





“Fiyan, kamu bisa datang ke redaksi hari ini?”






Begitu suara dibalik HPku. Suara yang ternyata berasal dari salah satu redaksi majalah ber-genre remaja islami dan syar’i.






Aku pun pertama tidak langsung menjawab. Masih terpaku.






“Kamu bisa datang kan, Yan,” lanjut suara dibalik HPku. Menanyakan kesedian dan kesiapan saya untuk bisa datang ke tempat itu. Redaksi majalah ber-genre islami dan syar’i itu. Insipirasi tak bertepi. Itulah jargon dan slogan yang berbunyi disetiap edisi penerbitan di majalah itu (baca: cover depan).







“Oya, Mbak insyaAllah saya bisa,” jawabku mengaminkan suara itu. Ternyata suara itu berasal dari suara perempuan sekaligus merupakan dari salah satu redaktur di majalah itu.






“Oke, ditunggu ya!” seru suara itu memastikan aku lagi untuk sesegera mungkin on the way ke tempat itu.







“Ya, Mbak tunggu saya saja nanti. Saya pasti datang, kok,” lanjutku mengakhir percakapanku dibalik HP.






“Oke, ya ditunggu! Assalamualaikum….”






“Walaikumsalam….”






Klik! Putus sudah segala percakapanku dengan salah satu redaktur majalah itu. Percakapan yang menurut aku masih terkejut hingga sampai suara dari balik HP itu hilang. Aku masih bertanya-tanya. ”Ada gerangan apakah saya dipanggil,” bathinku berkata saat itu. Ingin mencari tahu.






***






“Kamu bersedia kan, Yan?” tanya pemred majalah itu kepadaku ketika aku sudah tiba di ruang redaksi. Kebetulan saat aku berada di ruang itu semua awak redaktur majalah itu sedang berjibaku oleh beribu-ribu naskah dan deadline yang segera menanti mereka. Akan segera tiba waktunya.







Aku masih berpikir. Mencoba menyakin diriku apakah aku hari itu mimpi atau tidak. Dan jalan satu-satunya sebagai alternatif untuk meyakinkan diriku tak lain aku menampar pipiku yang chubby! Wadouuuw sakit…!” pekikku dalam hati. Tak bersuara. Ya, ternyata hari itu aku tak bermimpi melainkan nyata. Hingga dirikulah yang menjadi korbannya. Menyakiti diri sendiri untuk meyakinkan lagi.






“Oke, saya siap menjadi reporter dan menjadi bagian dari majalah ini!” tandasku mengiyakan segala uraian-uraian yang telah aku dengar sebelum-sebelumnya.






“Apa kamu mau sekarang bertugas, Yan,” lanjutnya lagi redaksi pelaksana (baca: redpel) itu memastikan kepadaku. Apakah aku hari itu siap untuk melakukan tugas sebagai reporter. Dan aku pun mengiyakan pula!




Akhirnya usai sudah pula percakapanku terhadap redpel majalah itu. Namun percapakan terhadap diriku dari awal aku melangkah menuju ke tempat itu sampai menajakan kaki hingga menemui redpel majalah itu aku masih tak percaya sekaligus merasa kurang yakin. Apakah ini nyata atau tidak. Lagi-lagi kalimat itu menghantui di benakku lagi.







Menjadi reporter di majalah itu. Ya, menjadi reporter yang—pernah aku impikan dan aku bayangkan sebelumnya untuk menjadi bagian di dalam tempat itu walau hanya sementara. Ternyata, yang Maha Kuasa berkata lain akhirnya apa yang aku bayangkan dan kuimpikan ternyata datang juga. Dan itu pun membuat aku benar-benar terkejut saat usai dalam percakapanku kepada redpel majalah itu. Aku ternyata dapat menjadi bagian majalah itu. Tak tanggung-tanggung menjadi reporter dengan sistem magang.






“Inilah waktunya bagi saya menjalani profesi yang sesungguhnya.” Lagi-lagi hati aku bergumam. Meyakinkan diriku lagi tak henti-hentinya. Terlebih nanti ada orang-orang yang akan aku wawancarai merupakan bagian dari orang-orang hebat.






Namun lagi-lagi itu tak mudah aku lakukan begitu saja. Terlebih aku masih “orang baru” dalam dunia jurnalistik yang sesungguhnya ini. Tapi dengan tekad dan kemauan aku untuk mengembangkan dunia dan bakatku hal itu aku hilangkan dari benakku. Sebab inilah awal jalan untuk aku lebih maju dan untuk mengenal dunia ini sekaligus juga mengenal berbagai karakter anak manusia.






Satu hal lagi kesempatan ini tak akan aku sia-siakan Karena kesempatan tak akan terulang lagi. Dan inilah saatnya aku untuk membuka diri dan membuka hati aku untuk menambah wawasan serta pengalamanku yang belum maksimal dan masih minim sekaligus belum aku alami.







Nah, untuk itu intisari semua yang aku tulis itu dalam rangkaian beribu-ribu kalimat adalah akhirnya (kesempatan) itu datang juga untuk saya. Dan akhirnya aku tinggal menjalankan sesuai kemampuanku.






Namun lagi-lagi mimpi tinggal mimpi, cita-cita tinggalah cita-cita apalagi keinginan. Sejak aku menjalani—yang selama ini aku anggap pekerjaan sebagai reporter itu mudah ternyata susah dan tak gampang begitu saja dilakukan oleh orang semacam aku yang bukan lulusan Jurnalistik.







Entahlah, aku harap duniaku yang pernah aku impikan dan aku jalankan yang hanya sesaat biarlah hanya menjadi saksi hidupku. Walaupun nanti aku menghadapi impian-impian lain yang tidak sesuai aku inginkan. Tapi satu hal sampai saat ini aku (juga) belum tahu pasti kemana arah langkahku menuju cita-cita. Mau jadi penulis? Lihat saja keterbatasan dan kekuranganku terhadap fasilitas yang membelenggu! Mau jadi seorang reporter media massa (majalah) aku bukan lulusan (orang) Jurnalistik terlebih aku bukan lulusan Strata Satu yang tak mungkin aku bisa menduduki profesi seperti itu selamanya (walau dalam hatiku ingin)!







Lagi-lagi semua itu aku hanya dapat kembalikan kepada sang waktu dan Maha Pengatur. Entah aku dibawa kemana. Baik itu impian dan cita-citaku aku hanya berharap semoga impian itu, impian dan cita-cita terakhirku. Karena aku yakin semakin kukejar itu (impian) toh nanti Tuhan juga yang mengaturnya. Biarlah Tuhan saja, Rabb-ku yang menentukan hidupku. Dibawa kemana aku hanya Dia yang Tahu! Entah aku mau jadi penulis atau mau menjadi reporter bagiku tak ada masalah. Kalau kedua-duanya bermanfa’at dan berguna kenapa tidak. Bukankah begitu? Tapi lagi-lagi aku sadar diri!*(fy)





Ulujami, 25 Maret 2009

susma mengatakan...

Inginnya Aku Mencintaimu, ya Rasululluh....
oleh SusWoyo

Tak kenal maka tak sayang. Itu kata pepatah Melayu. Sedang orang Jawa bilang: Witing tresna jalaran saka kulina. Kedua ungkapan bijak itu jika diterjemahkan secara bebas bermakna hampir sama. Bahwa proses menuju cinta diawali dengan sesuatu yang bernama mengenal. Baik dalam arti kenal secara face to face, atau mengenal dalam arti sejarah hidup orang yang kita cintai.

Dulu, hampir-hampir saya tidak mengenal siapa nabi saya. Siapa Rasulullah SAW itu. Padahal saya muslim. Setiap shalat saya selalu baca shalawat. Ini memang sangat keterlaluan. Barangkali karena saya mengenal agama saya tidak begitu detail seperti kawan-kawan yang belajar di pesantren atau di sekolah khusus keagamaan.

Hingga, ketika teman saya -yang bekerja di toko kitab- itu memutar shalawat setiap saya ke sana, saya biasa-biasa saja dengan senandung itu.

Ketika tahun 90-an para mahasiswa mengejar-ngejar jurnalis dan pengarang Arswendo Atmowiloto, saya juga 'adem ayem' saja. Padahal alasan para mahasiswa waktu itu disebabkan pooling yang dilakukan majalah yang ia pimpin sangat menghina Muhammad SAW. Ia menempatkan Rasulullah di urutan yang kesebelas, persis satu tingkat di bawah nama Arswendo sendiri. Sedang di atas nama Rasulullah ada nama-nama Suharto, Tutut, Zainuddin MZ dan tokoh-tokoh orde baru lainnya.

Tak lama kemudian, setelah geger itu, dunia Islam juga di kejutkan oleh novel The Satanic Verses, karya Salman Rusydi. Novel yang ditulis pengarang Inggris kelahiran India itu juga dinilai sangat menghina Nabi kita. Sehingga pemimpin Republik Islam Iran waktu itu, Ayatullah Khomaini, menyediakan berjuta-juta dollar untuk siapa saja yang bisa menemukan Salman, baik dalam keadaan mati atau hidup. Pada saat itupun saya tenang-tenang saja. Tak ada reaksi apapun. Bahkan tak ada rasa apapun dalam diri saya. Seolah yang dihina adalah seorang manusia biasa.

Tapi suatu ketika, Allah memperkenankan saya bertemu seorang kawan. Kami berdiskusi soal keagamaan. Di ujung pembicaraan, ia menghina Muhammad SAW. Dada saya hampir meledak. Tangan saya hampir-hampir memukul muka kawan saya itu. Mulut saya ingin sekali berteriak. Namun, sayang saya tidak bisa atau tepatnya tidak punya argumentasi kuat untuk membela keberadaan Nabi saya. Karena pengetahuan saya tentang Muhammad begitu dangkal. Saya menyesal sekali. Sejak itulah saya mulai belajar keras untuk mengetahui dengan jelas dan benar siapa Muhammad SAW itu.

Sejak peristiwa itu saya rajin mendatangi kajian-kajian ke-Islaman di sebuah kampus kota saya. Sejak itu saya setiap pagi buta berjalan hampir tiga km untuk ikut mengaji di sebuah pesantren sebelah desa saya. Sejak itulah saya rajin silaturrahim kepada kawan-kawan saya yang aktif di kegiatan Islam kampus. Walau saya sendiri hanya sebagai pedagang kaki lima dan bukan mahasiswa.

Alhamdulillah, dari sanalah saya sedikit tahu sosok agung itu, yang Allah dan para malaikatNya saja bershalawat pada beliau. Figur seorang pemimpin yang ketika anaknya minta dicarikan pembantu rumah tangga, justru sang anak diberikan amalan agar selalu bertasbih, bertahmid dan bertakbir saja. Tokoh sederhana yang ketika ditawari emas sebesar gunung Uhud, justru memilih keluarga dan akhirat saja. Pemimpin para da'i yang ketika dilempari batu di Thaif membalasnya dengan melempar senyum dan mendoakan kebaikan. Sang 'Abid, yang dijamin masuk surga tanpa hisab, tapi masih berdiri kokoh di waktu malam untuk beribadah sampai kakinya bengkak-bengkak. Orang mulia, yang ketika mendekati ajal, yang beliau sebut-sebut bukanlah istri, anak atau keluarga lainnya, tapi justru umatnyalah yang beliau sebut-sebut.

Membaca itu semua, saya jadi teringat perkataan imam masjid di kampung saya dulu ketika mau mengajarkan sejarah nabi. Ia berkata: Mari kita belajar mengenal Nabi kita. Belajar megenal bagaimana tingkah laku pemimpin kita. Dengan mengenal itu semua, kita akan menjadi cinta pada beliau. Dan dengan demikan akan mudah untuk melaksanakan apa yang beliau contohkan.

Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di telinga saya.

Cinta. Lagi-lagi karena alasan cinta mereka dengan ringan mampu berbuat sesuatu walaupun resikonya sangat tinggi. Karena cinta, mereka rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa, demi sang kekasih yang dicintainya. Dan saya yakin cinta mereka-mereka yang telah mengenal Nabi itu bukanalah cinta buta. Tapi cinta yang dilandasi sesuatu keyakinan murni yang sangat kuat.

Kembali saya meraba diri sendiri. Setelah agak sedikit mengenal, apakah saya lantas dengan mudah mencintai sang Nabi?

Ya Allah, ternyata mencintai Nabi tak semudah mencintai orang tua, keluarga, atau tak semudah mencintai pasangan kita. Mencintai Nabi ternyata butuh konsekwensi diri yang luar biasa. Bahkan nabi sendiri, ketika ada seorang perempuan datang pada beliau, lantas perempuan itu mengungkapkan keinginannya untuk mencintai nabi setulus-tulusnya, Nabi justru balik bertanya. "Apakah sudah kau pikirkan dulu masak-masak? Sebab mencintai saya itu akan datang banyak cobaan. Dan datangnya cobaan itu seperti datangnya air bah," kata Nabi.

Berarti mencintai nabi tidaklah semudah yang diomongkan lidah. Dan saya sendiri, merasa masih sangat tertatih-tatih dalam menuju derajat cinta Rasul. Sebab mencintai Rasul itu berarti mencintai Allah juga. Dan seandainya boleh saya mengibaratkan, Allah dan Rasul adalah dua sisi mata uang. Yang satupun tak boleh dihilangkan.

Ya Rabbul Jalil, berilah saya kekuatan untuk mencintai Rasul dan mencintaiMu. Agar saya bisa dengan mudah melaksanakan apa yang Kau perintahkan dan menjauhi apa yang Kau larang.

Dan saat-saat ini saya seringkali bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh manakah saya mencintai Rasulullah SAW?

Wallahu a'lam.

# woyo_sus@yahoo.co.id #

susma mengatakan...

Muslimah Kok Jutek?
oleh Dwi Asri Anggianasari


Senyum kecut asam dan sinis adalah ekspresi langka buat saya yang biasanya, paling minimal adalah senyum tiga jari (jangan diperagakan tanpa ada pengamanan khusus! hehe). Tapi saat itu sungguh-sungguh terpaksa! Diluar rencana, diluar dugaan, dibiarkan bebas, tanpa ada suruhan, senyum langka itu pun keluar. Sekali lagi ini terpaksa (dibuat sok serius). Mau tahu nggak kenapa? Mau tahu dong yah! (ih maksa! ^^)

Tadi sore saya mengantarkan adik ke salah satu lembaga bimbingan belajar yang berbasis Islami di deket rumah buat sekedar tanya-tanya (belum mau daftar nih!). Sampai di sana, ruangan yang sederhana itu terlihat lebih gelap dari pada biasanya, ditambah langit yang mendung di luar sana. saya dan adik langsung ke meja resipsionis yang dijaga oleh mbak-mbak muslimah berjilbab rapi yang cantik. Ternyata kita harus bersabar dulu karena masih ada ”pasien” lain yang lagi butuh informasi di sana. Pas akhirnya giliran kita datang, kita pikir bakal langsung dilayani, ternyata rada dicuekin sama mbak-mbaknya.

Padahal sebelumnya, si mbak-mbak ditanya, ”kok belum pulang?” sama temannya dan mbak-mbak itu menjawab ”ntar, lagi ini”, sambil nunjuk kita berdua. Akhirnya, mas-mas yang entah datang dari arah mana, menggantikan posisi mbak-mbak tadi. Terjadilah tanya jawab antara kami tentang kapan waktu daftar, pembayaran, dll. Dasar emang ini mas-mas bukan bagian administrasi, jadi setiap kita tanya, dia selalu nanya lagi ke mbak-mbak itu. Sampai di sini sih nggak masalah, mungkin si mbak-mbak emang lagi ngurusin hal lain. Sebenarnya rada risih juga dengan percakapan yang arahnya aneh ini (setiap pertanyaan kita ajukan ke mas-mas itu selalu dilempar lagi ke mbak-mbaknya).

Dan mulailah timbul perasaan geram di hati saya, ”kok gini sih?”. Tambah geram lagi ketika saya sadar kalau dari awal saya nyapa ini mbak-mbak, kagak ada senyumnya. Maka untuk mencairkan suasana yang kaku, saya suruh mas-masnya untuk nari jaipongan (nggak deng!), akhirnya saya sok-sok nanya, “mbak, anak-anak itu (sambil nunjuk ke belakang dimana banyak anak-anak yang pada nge-geng heboh) anak program Ronin yah?”. saya nggak begitu merhatiin jawabannya karena keburu ilfeel duluan dengar jawaban mbak-mbak itu yang diselimuti dengan nada yang jutek! Bahkan saat menjawab pertanyaan, matanya nggak melihat ke saya, sebagai orang yang bertanya! Sampai ini sini, senyum kecut asam sinis saya belum keluar. Masih bisa tertahan. Terus saya coba tanya lagi (sambil berharap, mungkin kalau pertanyaan yang satu ini bisa buat kita lebih akrab), ”Kak Fulan masih ngajar di sini, Mbak? Kalau Kak Fulan?...”.

Ternyata kawan-kawan! Responnya sama aja: JUTEK! Nah, saat itulah senyum langka saya keluar! Bener deh! Nggak habis pikir saya sama mbak-mbak ini, paling cuman butuh waktu 1 menit untuk menjawab dengan ramah, apa susahnya? Menatap saya pun tidak! Saat itu, hilanglah sudah pesona cantiknya bagi saya. Perasaan saya saat itu campur aduk antara dua rasa. Yang pertama kesel. Yang kedua, malu sama adik. Tahu nggak kenapa? Karena selama ini saya sudah berusaha membangun citra muslimah yang baik di mata adik. Eh, tiba-tiba di depan matanya sendiri ada muslimah yang jutek (malah, pantas dikategorikan sebagai tidak sopan!). Kegeraman yang saya rasa nggak bisa terbendung, akhirnya saya bilang ke adik saya pas mau naik motor minggat dari lembaga bimbingan belajar itu, ”De, mbak-mbaknya kok jutek yak?”. Tahu nggak jawaban adik saya apa?

”nah, itu dia kenapa Dede nggak mau di lembaga bimbel ini, kak! Mbak-mbaknya jutek-jutek! Waktu Dede daftar di lembaga bimbel yang sama di daerah rawamangun, mbak-mbaknya juga begitu juteknya, makanya akhirnya Dede ngeikhlasin uang pendaftaran 100.000nya. Biar aja, uangnya angus, yang penting nggak di sana.”

Wah, langsung saya merasa kayak di hajar massal! Perih banget hati ini. Dalam hati, wah, jangan-jangan fenomena muslimah jutek nggak cuman dialami sama kita aja, jangan-jangan banyak muslimah yang kayak gini, jangan-jangan saya termasuk di dalamnya. Maka saya mau MINTA MAAF YAH KALAU saya PERNAH JUTEK! Hiks...

Nah, teman-teman, waktu saya merasa kesal sama mbak-mbak yang tadi diceritain, dalam hati Ang sempet nyeletuk, ”Mau Islam bisa dinikmatin sama semua orang tapi senyum aja kayak barang mahal! Mau Islam menang, tapi melayani klien aja pake jutek segala. Kalau gini caranya mah bukan salah orang-orang lain menganggap kita eksklusif!” Akhirnya istighfar sih karena Allah yang Maha Tahu. Tapi gini, teman-teman, dari cerita pengalaman saya itu, kita bisa ambil satu nilai penting: senyum! Bener deh! Biar kita nggak kenal, tapi kalau senyum, akan terasa ada tali-tali yang terikat. Segala perkenalan selalu diawali dengan senyum.

Segala pertemanan selalu diawali dengan senyum. Bahkan cinta yang tidak dihiasi dengan senyuman pun akan hambar kan (cie cie!)? Segalanya! Senyum! Makanya ekspresi yang satu ini diberikan tempat istimewa oleh Allah sebagai suatu perbuatan yang termasuk ke dalam sebuah ibadah. Padahal cuman senyum! Tarik sedikit bibir kita ke samping atas, maka wajah kita tersenyum. Sedikit saja, maka senyum itu akan datang dan orang-orang di sekitar kita merasa dekat dengan kita. Apa susahnya? Nggak ada tuh istilah alasan karena ingin jaga image! Senyum dong, lebih hebat lagi kalau ditambah dengan, ”assalamu’alaikum...”. Teman-teman tahu nggak kalau di China (saya lupa LSM atau apa) ada program senyum yang isinya adalah diwajibkan bagi para pekerja sosialnya untuk menebarkan senyum di tempat-tempat umum, seperti jalan, bank, dll.

Tahu nggak kenapa program itu ada? Karena di China orang-orangnya jarang senyum. Terlambat mereka! Islam sudah lebih dulu membuat program itu dengan jargon terkenalnya, ”senyum itu ibadah!”. Tapi kenapa masih ada yang susah senyum? Sedikiit aja. Sebentaar aja. Wah, Harusnya hal ini jadi salah satu sub bab di bukunya Asma Nadia “Jangan Jadi Muslimah Nyebelin” yah.. hehe!
Teman-teman, (terutama buat para ukhti-ukhti nih), AYO TEBAR SENYUM TERBAIK KITA!! Kepada siapapun. Lintas usia, lintas agama, lintas jenis kelamin, lintas angkatan, lintas jurusan, lintas budaya, lintas jabatan, lintas segala deh (asal jangan ke jalan lalu lintas atau senyum berlebihan yang malah bikin orang yang disenyumin geleng-geleng dan terus kesurupan hehe). Jangan sampai kita udah capek-capek buat strategi dakwah, bikin program dakwah, dll tapi selama perjalanannya kita tidak menebarkan senyum kepada objek dakwah kita. Duh, bikin malu Islam nanti.

Yok! Setelah kamu baca ini, coba langsung ke kamar kamu (boleh dengan jalan, lari, ngesot –sekalian ngepel, ibu jadi senang \^0^/-, asal jangan loncat-loncat, entar capek! Hehe), terus berdiri di depan cermin. Senyum! Lihat, perhatikan, cermati, betapa sebenarnya ketika kita tersenyum, begitu banyak keindahan yang tepancar dari wajah ini. Coba sekali lagi tersenyum, maka kita akan merasakan betapa cintanya Allah pada kita karena telah memberikan kenikmatan dengan memudakan kita tersenyum. Islam itu indah. Maka jadikanlah senyum manis kita ini ibadah kecil yang mewakili manisnya Islam.

AYO, KITA SENYUM! =)